Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) dan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM sering dipandang serupa karena sama-sama berkaitan dengan dunia hewan, padahal keduanya memiliki karakteristik dan fokus yang berbeda. Melalui podcast Galstalk, dua mahasiswa yaitu Hasna Syawal Nuratika dari FKH angkatan 2023 dan Kezia Himawari Santosa dari Fapet angkatan 2024 berbagi cerita tentang perjalanan akademik mereka. Hasna mengisahkan ketertarikannya pada biologi serta hewan sejak SMA hingga akhirnya mantap memilih FKH, sementara Kezia bercerita bagaimana kecintaannya pada hewan membawanya menempuh jalan di Fapet setelah melalui berbagai seleksi.
Kesan pertama memasuki dunia kuliah pun berbeda. Di FKH, praktikum anatomi dan biologi hewan domestik langsung menantang mahasiswa baru dengan materi yang padat, sedangkan di Fapet masa awal terasa lebih ringan sebelum kemudian dikejutkan oleh lima praktikum di semester dua. Dari sisi struktur akademik, FKH memiliki 12 departemen seperti parasitologi, patologi, mikrobiologi, reproduksi, hingga kesehatan masyarakat veteriner, sedangkan Fapet memiliki 5 departemen yang mencakup nutrisi dan makanan ternak, pemuliaan dan reproduksi, sosial ekonomi, serta teknologi hasil ternak.
Kedua fakultas ini juga menyimpan fakta menarik. Indonesia saat ini membutuhkan hampir 70 ribu dokter hewan, tetapi jumlah yang tersedia baru sekitar 20 ribu, menunjukkan peluang karier yang masih sangat luas bagi lulusan FKH. Sementara itu, Fapet dikenal dengan “Susu Fapet UGM” yang diproduksi langsung di lingkungan fakultas dan menjadi salah satu ikon mahasiswa peternakan. Dari sisi pembiayaan, UKT FKH dapat mencapai Rp24,7 juta per semester, sedangkan Fapet berada di kisaran Rp11 juta. Meski demikian, UGM menyediakan berbagai jenis beasiswa melalui sistem SIMASTER sehingga mahasiswa tetap memiliki kesempatan luas untuk mendapat keringanan biaya.
Kehidupan mahasiswa di kedua fakultas tidak hanya berkutat pada kuliah. Hasna aktif di kelompok studi ternak produktif dan BPPM yang juga memiliki divisi teater, sementara Kezia mengikuti POSMAPET dan berbagai kegiatan lain termasuk Fapet Cup yang meriah. Semua ini memperlihatkan bahwa pengalaman di kampus bukan hanya tentang akademik, tetapi juga pengembangan diri, relasi, dan minat non-akademik.
Dari segi prospek, FKH melahirkan lulusan yang dapat berkiprah sebagai dokter hewan di klinik, peneliti, akademisi, bahkan pejabat pemerintah di bidang kesehatan hewan. Fapet melahirkan sarjana peternakan yang bisa menekuni bidang nutrisi, industri susu, perusahaan pakan, lembaga penelitian, maupun wirausaha di sektor agribisnis. Keduanya menegaskan bahwa pilihan jurusan di UGM tidak hanya tentang menjadi “dokter hewan” atau “peternak”, melainkan tentang memasuki dunia ilmu pengetahuan dan industri yang saling melengkapi.
Pesan terakhir yang disampaikan dalam podcast ini adalah pentingnya mengenali minat dan kemampuan diri sebelum memilih jurusan. Calon mahasiswa didorong untuk mengeksplorasi lewat expo kampus, diskusi dengan alumni, hingga mencoba tes minat bakat. Tekad, usaha, doa, dan restu orang tua menjadi kunci untuk menempuh jalan yang panjang di dunia akademik. Baik FKH maupun Fapet, keduanya menawarkan peluang yang sama luasnya bagi mereka yang berani berkomitmen, tekun belajar, dan siap berkontribusi bagi kemajuan hewan, manusia, dan lingkungan.