Surabaya, 3 Juli 2025 — Isu keberlanjutan dalam industri susu organik menjadi sorotan utama dalam seminar bertajuk “Sustainable Organic Milk Value Chain: Maximizing Economic Benefit for Farmers, Industry, and Consumer” yang digelar di sela rangkaian Indolivestock 2025. Acara ini melibatkan narasumber dari berbagai kalangan, mulai dari peternak, akademisi, pelaku industri, hingga pemerintah, dengan tujuan menggali potensi nilai ekonomi dari susu organik sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor demi terciptanya sistem pangan yang sehat, berkelanjutan, dan menguntungkan bagi seluruh rantai pasok.
Dalam paparannya, Dr. Makmun, M.Sc., selaku Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian RI, menekankan bahwa sistem peternakan organik harus dikembangkan secara menyeluruh. Hasil sampingan ternak, termasuk limbah, seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga memperbaiki kondisi lingkungan dan mendukung budaya pertanian masa depan. Menurutnya, produksi susu organik di Indonesia mulai berkembang sejak 2023, setelah diperkenalkan pada 2021, dengan mengadopsi konsep yang telah berjalan global sejak 1980-an.
Urgensi pengembangan produk organik juga diperkuat oleh regulasi nasional dan internasional, seperti RPJMN 2025–2029, SDGs 2030, dan Paris Agreement tentang perubahan iklim. Meski memiliki kualitas setara produk reguler, tantangan besar susu organik adalah biaya produksi yang masih tinggi sehingga perlu strategi untuk menjadikannya lebih kompetitif.
Dari perspektif akademisi, Prof. Kholil, Ketua Pengembangan Susu Organik Nasional, menjelaskan bahwa susu organik diproduksi dari sapi perah yang dibudidayakan sesuai standar organik tersertifikasi tanpa antibiotik, dengan pemanfaatan optimal sumber daya alam. Sementara itu, Emilia Setyowati menekankan perlunya pendekatan konsumen yang spesifik serta model bisnis yang melibatkan keterpaduan antara produk, media, produsen, dan konsumen.
Dari sisi industri, Bu Nurjannah dari PT Arla Foods memaparkan visi perusahaan dalam menyediakan produk susu sehat sekaligus meningkatkan nilai jual untuk peternak. Hingga kini, Arla telah melibatkan 7.600 peternak dengan populasi sapi mencapai 1,3 juta ekor. Program Organic Milk Learn yang dijalankan perusahaan menjadi bukti nyata keberhasilan transfer pengetahuan sekaligus peningkatan nilai tambah produk organik.
Menutup sesi, Helianti Hilman dari Javara dan Sekolah Seniman Pangan berbagi pengalaman dalam membangun permintaan pasar produk organik di Indonesia. Menurutnya, kesadaran konsumen bukan hanya dibangun lewat edukasi, tetapi juga melalui pengalaman dan nilai budaya yang melekat pada konsumsi pangan sehat dan berkelanjutan.
Seminar ini menunjukkan bahwa pengembangan rantai nilai susu organik di Indonesia memerlukan dukungan menyeluruh dari semua pihak, demi tercapainya sistem pangan yang lebih adil, sehat, dan berkelanjutan.