Dulu, peternak menambahkan antibiotik dosis kecil ke pakan agar ayam tumbuh cepat dan sehat. Antibiotik tersebut adalah Antibiotic Growth Promoter (AGP). Antibiotic Growth Promoter (AGP) merupakan antibiotik yang diberikan dalam dosis rendah melalui pakan ternak, melainkan untuk mempercepat pertumbuhan dan memperbaiki sistem pencernaan hewan. AGP menjadi solusi populer di kalangan peternak selama bertahun-tahun karena terbukti mampu membuat ayam, babi, dan unggas lainnya tumbuh lebih cepat dan efisien.
Tujuan utama penggunaan AGP adalah untuk meningkatkan performa ternak. Antibiotik dalam dosis kecil mampu membantu menekan pertumbuhan bakteri jahat pada saluran pencernaan, sehingga energi dan nutrisi dapat dimanfaatkan lebih optimal oleh tubuh hewan. Namun, di balik manfaatnya, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AGP secara terus-menerus dapat menyebabkan resistensi antibiotik, yaitu kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik yang digunakan, baik pada hewan maupun manusia. Kini, pemerintah, akademisi, dan dokter hewan bekerja sama untuk mengedukasi peternak agar tidak lagi bergantung pada AGP dan beralih ke sistem pemeliharaan yang lebih aman serta berkelanjutan.
Larangan penggunaan AGP sudah dimulai sejak awal tahun 2000-an di Eropa, dan secara resmi diberlakukan di seluruh Uni Eropa pada 1 Januari 2006. Sementara itu, Indonesia mengikuti langkah serupa dengan melarang AGP sejak 1 Januari 2018 melalui Peraturan Menteri Pertanian No. 14 Tahun 2017 dan Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 yang telah direvisi menjadi UU No. 41 Tahun 2014.
Pengganti AGP kini banyak tersedia, seperti :
- Probiotik dan prebiotik untuk kesehatan usus
- Fitobiotik, berasal dari herbal (jahe, kunyit, dan meniran)
- Asam organik dan enzim untuk membantu pencernaan
Semua pengganti tersebut juga harus dibersamai dengan kebersihan kandang, pemberian pakan berkualitas, dan biosekuriti yang baik.
Antibiotic Growth Promoter (AGP) memang menguntungkan dan mempercepat pertumbuhan, tetapi risiko yang diakibatkan juga sangat besar. Peralihan menuju peternakan tanpa AGP menjadi langkah penting menuju sistem pangan yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan. Dengan dukungan teknologi, riset, serta kesadaran peternak, produksi hewan tetap bisa optimal tanpa bergantung pada antibiotik.